Perkembangan Investasi Syari’ah di Indonesia Dan Global

  1. Perkembangan Investasi Syariah di Indonesia

Terjadinya krisis ekonomi di Indonesia pada tahun 1998 memberikan gambaran betapa sektor keuangan konvensional yang berlandaskan sistem bunga sangat rapuh terhadap krisis, sementara sektor keuangan syari’ah, walaupun pada saat itu jumlahnya masih minim, tapi paling tidak dapat menunjukkan tingkat resistensi yang tinggi terhadap krisis dan dapat dengan sukses melewatinya. Kenyataan ini mendorong pertumbuhan yang sangat signifikan pada sektor keuangan syari’ah pasca krisis 1998, yang ditandai oleh berkembangnya jasa-jasa keuangan baik bank maupun non bank yang berlandaskan prinsip syari’ah.

Seiring dengan semakin membaiknya kondisi perekonomian di Indonesia, tingkat investasi pada sektor keuangan juga semakin meningkat. Investasi dalam Islam merupakan bagian dari kegiatan muamalah, Islam memandang investasi merupakan hal yang wajib untuk dilakukan agar harta menjadi produktif dan dapat lebih bermanfaat bagi orang lain, dan secara tegas Islam melarang penimbunan harta.

Secara resmi Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) meluncurkan prinsip pasar modal syariah pada tanggal 14 dan 15 Maret 2003 dengan ditandatanganinya nota kesepahaman antara Bapepam dengan Dewan Syariah Nasional- Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), maka dalam perjalanannya perkembangan dan pertumbuhan transaksi efek syariah di pasar modal Indonesia terus meningkat. Harus dipahami bahwa ditengah maraknya pertumbuhan kegiatan ekonomi syariah secara umum di Indonesia, perkembangan kegiatan investasi syariah di pasar modal Indonesia masih dianggap belum mengalami kemajuan yang cukup signifikan, meskipun kegiatan investasi syariah tersebut telah dimulai dan diperkenalkan sejak pertengahan tahun 1997 melalui instrumen reksa dana syariah serta sejumlah fatwa DSN-MUI berkaitan dengan kegiatan investasi syariah di pasar modal Indonesia.

Pasar modal memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian suatu negara karena dapat menjadi sumber pengumpulan dana alternatif selain melalui bank. Pasar modal menjalankan dua fungsi sekaligus, yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal menjalankan fungsi ekonomi karena menyediakan fasilitas yang mempertemukan dua pihak yang saling memiliki kepentingan yaitu pihak yang memiliki kelebihan dana (investor) dan pihak yang memerlukan dana (emiten), investor dapat menginvestasikan dananya dengan harapan memperoleh return sedangkan  emiten dapat memperoleh dana untuk melakukan investasi tanpa harus menunggu hasil dari operasional perusahaan. Pasar modal menjalankan fungsi keuangan karena memberikan kemungkinan dan kesempatan memperoleh imbal hasil bagi pemilik dana sesuai dengan karakteristik efek yang dipilih.

  • Perkembangan Investasi Syariah Secara Global

Perkembangan pasar keuangan Negara-negara maju memang menjadikan pengalaman khas kepada akademisi, yakni semakin modern peradaban ekonomi suatu masyarakat maka akan semakin membesar peran pasar modal yang dibarengi dengan semakin mengecilnya peran perbankan komersil didalam memobilisasi dana mereka ke sector produktif.

Mudah sekali dimengerti bahwa masyarakat yang semakin terdidik akan semakin tidak suka menanamkan dana mereka di bank komesil karena alasan pemberian return yang relative kecil, meskipun resikonya pun kecil juga.

Dengan memasuki pasar modal, mereka memasuki area yang lebih menantang lebih  mendorong  pemanfaatan  kemampuan  analitis Investasi Syariah yang sudah mereka miliki, sekaligus menjanjikan return yang lebih baik. Fenomena  ini  yaitu meningkatkan peran pasar modal yang dibarengi dengan berkurangnya peran perbankan komersil.

Upaya menuju masyarakat syariah (muamalah) itu perlu dibarengi dengan memasuki wacana pasar keuangan syariah. Memasuki  wacana pasar keuangan syariah itu seperti memasuki dunia yang  masih lenggang.