Labelisasi “Syari’ah” Pada Lembaga Keuangan

ilustrasi : kompas.com

Seiring dengan dinamika perkembangan lembaga keuangan syari’ah, baik lembanga bank maupun non bank, populasitas produk lembaga keuangan syari’ah kini semakin polular. Baik dalam aspek positif, maupun dalam aspek lainnya. sebagian orang, menyambut positif adanya produk-produk lembaga keuangan syari’ah. Bagi sebagian lainnya, ada yang berkeberatan. Karna kepentingan, ketidaksempurnaan dalam menyerap informasi, serta alasan-alasan lainnya.

Lembaga keuangan yang menjalankan usahanya berdasarkan prinsip-prinsip syar’i, berdasar pada undang-undang nomor 21 tahun 2008 diberi label “syari’ah”. Labelisasi ini tidak lahir begitu saja. Untuk mendapatkan label “syari’ah”, tidak cukup dengan klaim lembaga bahwa kereka menggunakan akad syar’i. Juga tidak bisa diperoleh hanya karena staf front office nya menggunakan hijab, kopiah, atau security menyambut nasabahnya dengan salam. Label tersebut lahir dari komitmen bahwa usaha yang dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip syar’i. Bahwa setiap akad syar’i, dilaksanakan dengan mekanisme yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan qur’an, hadits, serta nash lainnya yang diakui bisa digunakan sebagai sumber hukum dalam Islam.

salah satu konsekuensi dari labelisasi “syari’ah” yang harus dijalankan oleh lembaga keuangan syari’ah adalah lahir banyak akad dalam pengelolaan keuangan. Pada kembaga keuangan konvensional, pengelolaan keuangan dilakukan dengan akad berbasis bunga. Baik itu produk funding, maupun financing. Misal nasabah ingin menyimpan uang di lembaga keuangan berbasis bunga. Pengelolaan dana simpanannya berbasis bunga. Nasabah menyimpan uang sekian rupiah, bunga simpanan sekian persen, maka dalam waktu tertentu, uang simpanan nasabah akan bertambah, karna ada bunga. Begitupun dengan pengelolaan pinjaman. Seiring dengan waktu, pinjaman nasabah akan bertambah karna ada beban bunga. Pengelolaan seperti itu, tidak digunakan dalam sistem pengelolaan lembaga keuangan syari’ah. Misal ketika ingin menyimpan uang dilambaga keuangan syari’ah, maka kita akan diberikan opsi akad yang akan digunakan. Apakah hanya sebatas titipan (wadi’ah), atau uang tersebut bisa diinvestasikan oleh pengelola (mudharabah).

bersambung…